Contoh Cerpen tentang Persahabatan

0
Posted by Label: On


 Semenjak memasuki awal SMP ini aku semakin bahagia, yahh..mungkin salah satunya karena aku mendapatkan teman-teman yang bisa menghargai keberadaanku. Sekarang ini aku udah kelas 8 SMP dan temanku juga semakin banyak.
          Ohh.. iya namaku Cecillia Adelia Putri. Teman-temanku biasa memanggilku Adel. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, tak ada sesuatu yang istimewa dari diriku. Tapi.. semenjak kejadian itu, aku merasa menjadi seseorang yang sangat bahagia. Bahkan aku nggak percaya hal itu akan terjadi padaku.
          Pagi itu udara segar, burung burung berkicauan seakan menyambut indahnya pagi ini. Aku segera bangun dan bersiap berangkat ke sekolah. Mama dan Papaku sudah menungguku di ruang makan.
“ Pagi ma..pa..!! “ ujarku
“ Pagi juga Del..!! “ kata mama sambil menyiapkan sarapan
Papa berkata “ Kamu nanti kalu tidak ada pelajaran tambahan langsung pulang ya Del..”
“ Iya pa..” jawabku
Setelah selesai, aku berpamitan pada mama dan papaku. Aku pun berangkat ke sekolah. Sekolahku cukup jauh dari rumahku jadi, aku harus naik angkutan. Saat aku menunggu angkutan, aku berpapasan dengan sahabatku, sahabat yang paling aku sayangi. Namanya Tiara dia sahabatku dari kecil. Salah satu orang yang paling berharga dalam hidupku. Dia anak yang selalu ceria dan supel. Tapi.. entah kenapa hari ini dia terlihat murung dan tak ceria seperti biasanya.
“ Pagi Ra..!! “ ujarku padanya
“ Pagi juga Del..” jawabnya dengan nada lesu
“ Kok murung gitu Ra..?? kenapa..??” tanyaku heran
“ Nggak tau nih Del.. dari tadi perasaanku nggak enak banget..kayaknya akan ada sesuatu yang terjadi.” Katanya
“ Udahlah Ra.. itu kan Cuma perasaan kamu aja..nggak akan ada apa-apa kok “ kataku
“ Hmmm.. iya deh.” Jawabnya (tetap saja murung)
          Setelah itu, kami menaiki sebuah angkutan umum. Sepanjang perjalanan tak ada hal yang aneh, sampai tiba tiba dari arah yang berlawanan sebuah Bus melaju dengan kencang.. tapi bus itu tiba-tiba oleng ke arah angkutan yang kami naiki !!
Tabrakan pun tak dapat dihindari lagi.. bus itu menabrak angkutan yang kami naiki. Aku tak ingat apa-apa lagi setelah kejadian itu, aku hanya ingat saat aku sudah berada di rumah sakit. Aku heran dimana aku ini..?? dan mana Tiara..?? lalu orang tuaku datang.
“ Kamu nggak apa-apa Del..??” kata mama sanbil mengusap air matanya
“ Iya ma..Adel nggak papa. Mana Tiara ma..??” ucapku lirih
“ Tiara… kondisinya parah.. dia sedang diperiksa oleh dokter” kata mama
Mendengar perkataan itu aku kaget, aku langsung melepas infuse di tanganku dan pergi mencari Tiara.
“ Tunggu Del..!! kamu masih harus berada di tempat tidur” kata papa sambil memegang tanganku
“ Biar pa… Adel ingin ketemu Tiara. Adel nggak peduli separah apa luka Adel, yang penting Adel mau ketemu Tiara “ kataku sambil melepas tangan papa, dan pergi
          Setelah itu aku menjumpai papa dan mama Tiara di depan sebuah kamar rawat. Mama Tiara menangis tersedu-sedu. Lalu aku dan juga mama papaku yang mengikutiku dari belakang, menghampiri mama dan papa Tiara. Saat sampai kebetulan dokter yang memeriksa Tiara keluar dari kamar tersebut, wajah dokter itu seperti sangat menyesal. Dokter itu pun berkata
“ Mana keluarga dari saudari Tiara ? “
“ Kami keluarganya Dok. “ kata papa Tiara
“ Kondisi anak bapak sangat parah, dia kehabisan banyak darah sedangkan jantungnya sudah tidak bisa memompa darah lagi. Dan nyawa Tiara tidak dapat dipastikan lagi,apakah dia masih bisa bertahan dengan kondisinya yang seperti ini.” kata dokter tersebut.
“ Tapi, dok pasti ada cara untuk menyelamatkan nyawa anak saya” kata papa Tiara.
“ Jalan satu-satunya adalah apabila ada seseorang yang rela mendonorkan jantungnya !! “ ucap dokter itu.
          Mama Tiara menangis. Air mata mengucur dari kedua mataku . Kenapa harus Tiara yang mengalami semua ini ? kenapa bukan aku saja ??. Tanpa pikir panjang aku berkata
“ Biar aku yang mendonorkan jantungku !! “ kataku
Semua tercengang mendengar kata-kataku
“ Pikirkan dulu nak “ kata dokter itu
“ Jangan melakukan itu Del..” kata papa menyahutnya
“ Iya Del.. pikirkan dulu baik-baik ini bukanlah hal yang mudah” kata papa Tiara
          Aku hanya tertunduk. Mamaku tiba-tiba menangis karena mendengar kata-kataku.
“ Tolong Del…jangan melakukan itu..masa depanmu masih panjang, kamu masih harus mendapatkan kebahagiaan” ujar papa
“ Ma.. Pa.. semuanya.. itu lah kebahagiaanku. Kebahagiaanku adalah membuat sahabatku bisa sehat lagi. Meskipun aku harus kehilangan nyawaku.. aku rela, aku tak mau melihatnya seperti ini lebih baik aku saja yang merasakannya, Aku mohon ma..pa.. izinkan aku melakukannya” kataku sambil bersujud dibawah mama dan papa.
Orang tuaku diam dan menangis, lalu sambil mengangkatku berdiri mama berkata
“ Kalau kamu yakin akan melakukannya dan kalau itu memang kebahagiaanmu..lakukanlah nak”
          Aku tersenyum mendengarnya lalu aku memeluk kedua orang tuaku
“ Terima kasih ma.. pa..” ucapku
          Setelah disetujui, operasi pengambilan jantung di lakukan hari itu juga. Ruang operasi dengan suasana lengang dan tegang. Sebelum operasi dimulai dokter itu tersenyum padaku dan berkata
“ Kau seorang anak berhati malaikat”. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Di situ lah kehidupanku berakhir. Tak kusangka aku tutup usia di usiaku yang ke-15 tahun.
          Disamping itu, operasi Tiara berhasil. Dia sudah sehat seperti sedia kala.
          Beberapa tahun kemudian, Tiara datang mencariku ke rumah. Alangkah senangnya dia ketika hendak bertemu denganku. Dia mengetuk pintu rumahku lalu, dibukalah pintu itu oleh mamaku. Tiara langsung memeluk mamaku. Mamaku kaget kenapa anak itu langsung memeluknya. Lalu, Tiara berkata
“ Ini aku tante… Tiara, aku kesini ingin bertemu Adel. Adelnya ada gak tante , aku udah kangen banget ama dia ? “
Mamaku diam termenung dan berkata
“ Adel udah gak ada disini “
“ Lohh..!! lalu Adel dimana tante..??” ucapnya penasaran
“ Adel sudah bahagia di suatu tempat yang jauh dari kita.” Kata mama
“ Dimana itu tante..?? antarkan aku menemuinya, biarpun tempat itu jauh.. nggak apa-apa tante, aku ingin ketemu Adel aku mohon..aku mohon..” kata Tiara memaksa.
          Mamaku tak bisa menolak permintaan Tiara yang terus memaksa, akhirnya mereka pergi ke suatu tempat. Tempat yang tak pernah terfikirkan oleh Tiara sebelumnya.. yaitu pemakaman umum. Tiara heran apa maksud ini semua..?? kenapa mama Adel membawanya kemari..??
“ Tante.. kenapa aku dibawa kemari..?? mana Adel..??”
Mamaku hanya diam dan terus berjalan. Setelah sampai disebuah makam mamaku berhenti dan berkata
“ Ini Adel Tiara” sambil menunjuk makam didepannya.
“ Apa-apaan ini tante..!! tante bohong..!! aku mohon tante katakan bahwa semua ini bohong..!!” kata Tiara tak percaya
“ Tante tidak bohong Ra.. dia meninggal setelah mendonorkan jantungnya.”
“ Untuk siapa dia mendonorkan jantungnya dan kenapa..??” kata Tiara
“ Dia mendonorkan jantungnya untuk seorang sahabatnya yang kecelakaan.. sahabat yang sangat ia sayangi dan sahabat itu adalah kamu Tiara”
Tiara kaget mendengarnya
“ Kenapa..!! aku tidak tau soal hal itu…??” Ujar Tiara
“ Orangtuamu sengaja tidak memberitahukannya padamu, karena itu semua permintaan Adel.”
          Tiara menangis di atas makamku,. Dan berkata
“ Kenapa..!! harus kamu Del.. seharusnya aku yang mati bukan kamu..!!” ujar Tiara
Dia menangis tak terhenti sampai mamaku berkata
“ Sudah Ra.. ikhlaskan kepergian Adel, biarkan dia tenang di alam sana. Adel pasti bahagia bisa melihatmu sehat seperti ini lagi. Adel masih hidup di dalam dirimu.”
Tiara mengusap air matanya. Dia merenungkan perkataan mamaku. Apakah kamu bahagia Del..?? kalau kamu bahagia aku juga akan mencoba berusaha untuk bahagia.. gumam Tiara.
          Sebelum pergi dia meletakkan setangkai bunga yang dibawanya, bunga yang disukai Adel yaitu mawar putih. Dan berkata
“ TERIMA KASIH SAHABAT BERHATI MALAIKATKU”
Poskan Komentar

Back to Top